Selamat datang di blog Media Public

Senin, 06 Januari 2014

Membangun Pertanian yang Memihak Petani...!

Tingginya Nilai Dollar bisa jadi menjadi pelajaran bagi kita semua, ketika beberapa komoditas pertanian masih disuplay dari negara-negara lain, sehingga menyebabkan harga harga tidak tertolong, inilah yang terjadi pada kasus kacang kedelai.

Negara maju sekalipun selalu menjadikan Dunia pertanian sebagai sarana menuju kemakmuran negaranya, AS, Thailand, Jepang menjadikan Dunia pertanian sebagai bagian penting dari perkembangan Negaranya.

Lain misalnya dengan Negara kita, Pertanian bagaikan Dunia yang kelam, dan selalu saja menjadi persoalan saat masalah tiba, misalnya tingginya harga bawang, komunitas kacang kedele yang semakin tinggi, menyebabkan sulitnya mendapatkan tempe dan tahu, Beras masih saja menginpor dari negara negara tetangga, dan yang paling lucu misalnya, ketika teknologi kita pesawat hasil Karya anak bangsa di tukar dengan hasil pertanian dari Thailan (Masa pemerintahan Habiby), Ironis memang.

Mungkin inilah yang mendasari ketika Wakil BUpati Rokan Hilir, melarang petani mengalih fungsikan lahan pertanian menjadi perkebunan sawit (Lihat Rohil Online), dan bahkan Bapak Kadis Pertanian, akan menyiapkan Perda yang memberikan batasan terhadap pengalih fungsian lahan oleh masyarakat petani.

Tentu saja hal ini menjadi pertanyaan dan bahkan sedikit lucu, pertama, membatasi hak petani pada persoalan penggunan hak pakai Tanah sudah jelas di atur pada UUPA, kebebasan dan kemerdekaan bagi petani sungguh sangat dijamin, Kedua, Persoalan pengalih fungsian tidak lepas dari ketidak berdayaan petani terhadap kehidupan hariannya yang semakin tinggi, sedangkan hasil pertanian semakin tidak produktif untuk dijadikan sandaran hidup. Ketiga, sarana pendukung pertaninan yang tidak tersedia, dengan sistem penen setahuan sekali tentunya petani tidak mampu, artinya pemerintah harus menyiapkan sarana Irigasi yang jelas, sehingga dapat mengaliri sawah petani dan dapat panen sampai 3 x dalam sebulan.

Sehingga Penulis memahami, kegelisan Bapak Wakil BUpati Rokan Hilir ini tidak lepas dari peningkatan kinerja Pemerintah, tanpa pernah berpikir seperti apa dan bagaimana nasib petani, sehingga kebijakan ini tentu saja tidak memihak pada petani.

Dapat kita lihat, dengan APBD yang besar SATKER tidak melakukan kajian yang serius sebab dan faktor faktor yang membuat petani mengalih fungsikan lahan, sering kali program yang ditawarkan hanya bersifat bangunan ketimbang manfaat yang sesungguhnya. Program irigasi yang tidak berjalan, suplay saprodi yang sulit dan biasanya harganya sulit terjangkau masyarakat petani, dan yang lebih patal harga penjualan yang turun saat panen raya.

Untuk itu melalui Tulisan ini Penulis Menawarkan pada Pemerintah :

Menciptakan program lumbung pagan, berupa penjaminan harga jual pertanian dengan sistem Harga Eceran Tertinggi, (HET), semua hasil padi didaearah ini dibeli oleh pemerintah dan dilakukan penyimpanan pada lumbung lumbung yang disediakan, seperti di Kecamatan Rimba Melintang memfungsikan Gudang BUlog, sehingga harga terjamin dan negara tidak Rugi, ketika harga beras mulai naik, barulah padi padi tersebut dioleh oleh pemerintah sehingga sistem ini tidak merugikan negara dan otomatis memancing para petani untuk terus menanam padinya.

Sekarang ini, bila panen raya tiba, harga penjualan padi anjlok, sehingga petani terpaksa menjualnya dan sayangnya lagi penjualan bukan dipasaran Rokan Hilir tapi dijual ke daerah lain dan melalui agen agen yang datang ke daerah sentral Pertanian ROKAN HIlir, untuk itu agaknya SATKER harus mampu menciptakan program ini, dengan Nama program ketersediaan pagan kabupaten Rokan Hilir, pertanyaannya tentu saja sejauh mana program ini mempunyai nilai tambah bagi SATKER, sehingga program ini bagi SATKER mungkin tidak menarik, dan tentunya SATKER lebih tertarik pada Program Bangunan yang sebenarnya tidak menyentuh hanjat hidup petani yang sesungguhnya.

Oleh : Bustami, MS
Calon Legislatif DPRD Kabupaten Rokan Hilir Dapil I  (Kec. Bangko, Sinaboi, Batu Hampar, Pekaitan) dari Partai Gerindra Nomor Urut 7